Pemuda dan Sosialisasi
1.
Internalisasi
Belajar dan Sosialisasi
A.
Pengertian Pemuda dan
Sosialisasi
Pemuda adalah suatu generasi yang dipundaknya
terbebani berbagai macam harapan karena pemuda diharapkan sebagai generasi
penerus bangsa . Pemuda merupakan suatu identitas yang potensial dalam
kehidupan bernegara dan berbangsa. Pemuda merupakan generasi penerus yang akan melanjutkan
perjuangan dan mengisi, serta melangsungkan estafet pembangunan secara terus
menerus. Oleh karena itu berbagai potensi positif yang dimiliki generasi muda
ini harus digarap, dibina dan dikembangkan sesuai dengan arah dan tujuan yang
baik. Pemuda sering juga disebut dengan generasi muda yang merupakan istilah dalam konteks umum,
beberapa literatur menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pemuda adalah :
1. Mereka yang berumur antara 10-24 tahun
2. Mereka yang berumur antara 15-30 tahun
3. Mereka yang
berumur antara 15-35 tahun
4. Mereka yang secara sikologis mempunyai jiwa muda dan
mempunyai identitas kepemudaan.
Pemuda dalam pengertian
adalah manusia-manusia muda, akan tetapi di Indonesia ini sehubungan dengan
adanya program pembinaan generasi muda pengertian pemuda diperinci dan tersurat
dengan pasti. Ditinjau dari kelompok umur, maka pemuda Indonesia adalah sebagai
berikut :
Masa bayi
|
0
– 1 tahun
|
Masa anak
|
1 – 12 tahun
|
Masa
Puber
|
12
– 15 tahun
|
Masa
Pemuda
|
15 – 21 tahun
|
Masa
dewasa
|
21 tahun keatas
|
Dilihat dari segi budaya
atau fungsionalnya maka dikenal istilah anak, remaja dan dewasa, dengan perincian
sebagia berikut :
Golongan
anak
|
0 – 12 tahun
|
Golongan
remaja
|
13 – 18 tahun
|
Golongan
dewasa
|
(21) tahun keatas
|
Berdasarkan
dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Pemuda adalah mereka yang berumur antara 10- 35 tahun atau lebih, dengan catatan
bahwa yang lebih dari umur 35 tahun tersebut secara psikologis mempunyai jiwa
kepemudaan serta mempunyai identitas kepemudaan.
Kedudukannya
yang strategis sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani
bagi pembangunan bangsanya, maka ibarat suatu mata rantai yang terurai panjang,
posisi pemuda dalam masyarakat menempati mata rantai yang paling sentral. Masa
muda pada umumnya dapat dipandang sebagai suatu tahap dalam pembentukan
kepribadian manusia. Karateristik yang menonjol dari pemuda adalah peranannya
dalam masa peralihan menuju kedudukan yang bertanggung jawab dalam tatanan
masyarakat, seperti menimbulkan gagasan baru dan semangat dalam mengabdikan
dirinya. Begitu juga dengan kedudukan Pemuda sebagai bagian dari masyarakat
dapat dilihat dari berbagai aspek yang merupakan bahagian dari potensi dirinya,
diantaranya:
a. Idealisme secara sosiologis
b. Dinamika dan Kreativitas
c. Keberanian mengambil resiko
d. Optimis dan semangat
e. Mandiri dan disiplin
f. Terdidik dan lainnya
Sedangkan
Sosialisasi adalah Proses Ilmiah
yang membimbing individu untuk mempelajari, memahami dan mempraktekkan nilai-
nilai, norma- norma, pengetahuan serta keterampilan yang dimiliki oleh
masyarakat. Proses sosialisasi yang membuat seseorang menjadi tahu bagaimana
seseorang bertingkah laku di tengah-tengah masyarakat dan lingkungan budayanya.
Proses sosialisasi membawa seseorang dari keadaan belum tersosialisasi menjadi
masyarakat yang beradab. Sosialisasi adalah Proses yang membantu individu
melalui belajar dan penyesuaian diri, bagaimana bertindak dan berpikir agar ia
dapat berperan dan berfungsi, baik sebagai maupun sebagai anggota masyarakat.
Proses sosialisasi sebenarnya berawal dari dalam keluarga seperti anak –anak
yang masih kecil dalam keluarga.
Melalui proses sosialisasi,
seorang pemuda akan terwarnai cara berpikir dan kebiasaan-kebiasaan hidupnya.
Dengan demikian, tingkah laku seseorang akan dapat diramalkan. Dengan proses
sosialisasi, seseorang menjadi tahu bagaimana ia mesti bertingkah laku di
tengah-tengah masyarakat dan lingkungan budayanya. Dari keadaan tidak atau
belum tersosialisasi, menjadi manusia masyarakat dan beradab. Kemandirian dan
kepribadian melalui proses sosialisasi dapat terbentuk. Dalam hal ini
sosialisasi diartikan sebagai proses yang membantu individu melalui belajar dan
menyesuaikan diri, bagaiman cara hidup dan bagaimana cara berpikir kelompoknya agar
dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya.
Meskipun
sosialisasi itu mungkin berbeda-beda dalam berbagai lingkungan dan lembaga baik formal maupun informal namun sasaran sosialisasi tersebut banyak
memilki kesamaan terutama dari segi Tujuan bersosialisasi tersebut. Berikut pengertian
sosialisasi menurut para ahli:
Ø Charlotte Buhler:
Sosialisasi adalah prosesyang membantu individu-individu belajar dan
menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup, dan berpikir kelompoknya agar ia dapat
berperan dan berfungsi dengan kelompoknya.
Ø Peter Berger: Sosialisasi adalah suatu proses dimana seseorang
menghayati serta memahami norma-norma dalam masyarakat tempat tinggalnya
sehingga akan membentuk kepribadiannya.
Ø Soerjono Soekanto: Sosialisasi adalah proses
mengkomunikasikan kebudayaan kepada warga masyarakat yang baru.
Tujuan Sosialisasi
Adapaun Tujuan pokok Sosialisi yang diberikan pada
pemuda adalah:
1.
Memberikan
pemuda tersebut ilmu pengetahuan ( keterampilan) yang bermacam- macam agar
dapat digunakan dan sangat ia butuhkan
bagi kehidupannya kelak dalm bersosialisasi dan berhubungan dengan masyarakat.
2.
Agar Individu mampu berkomunikasi
secara efektif dan mengembangkan kemampuannya.
3.
Membantu
Pengendalian fungsi- fungsi organik yang dipelajari melalui latihan- latihan
yang didpatkan dari lingkungan.
4.
Agar
Pemuda dapat bertingkah laku sesuai dengan norma atau tata nilai dan
kepercayaan pokok yang ada pada lembaga
atau kelompok khususnya masyarakat pada umumnya.
Media
Sosialisasi
Sosialisasi pada dasarnya menunjuk pada semua faktor dan
proses yang membuat pemuda /I menjadi selaras dalam hidupnya di tengah- tengah
orang lain . Seorang pemuda atau anggota masyarakat akan menunjukkan
sosialisasi yang baik apabila ia dapat bersosialisasi dengan baik dengan
lingkungannya, kemampuan unuk dapat hidup ditengah- tengah orang lain atau
bersosialisasi dengan masyarakat pada umunya tidak datang begitu saja dalam
diri seorang pemuda tanpa proses sosialisasi dan kematangan belajar. Sering
terdapat anggapan yang keliru bahwa kemampuan sosialisasi pemuda dalam
menyesuaikan diri dengan lingkungan semata- mata hanya hasil dari belajar.
Anggapan yang demikian itu pada dasarnya melupakan bahwa untuk belajar pemuda
juga memerlukan taraf kematangan tertentu baik dalam kemampuan berbicara dan
lain sebagainya.
Dan disamping proses sosialisasi berlangsung melalui proses
kematangan dalam belajar, pemuda tersebut juga memerlukan media tertentu dalam
proses pemahaman dan pengembangan pengalaman yang ia dapatkan dan inilah yang
disebut dengan Media Sosialisasi.
Apabila ditinjau perkembangan individu dari
sejak masa anak- anak sampai dewasa, maka terdapat beberapa media sosialisasi
diantaranya:
1.
Orangtua
dan keluarga
2.
Teman
Bermain
3.
Sekolah
4.
Media
Massa
5.
Masyarakat
B.
Internalisasi belajar dan Sosialisasi
Ketiga kata atau istilah
tersebut pada dasarnya memiliki pengertian yang hampir sama. Proses
berlangsungnya sama yaitu melalui interaksi sosial. Istilah internasilasasi
lebih ditekankan pada norma-nroma individu yang menginternasilasikan
norma-norma tersebut. Istilah belajar ditekankan pada perubahan tingkah laku,
yang semula tidak dimiliki sekarang telah dimiliki oleh seorang individu. Istilah
spesialisasi ditekankan pada kekhususan yang telah dimiliki oleh seorang
individu yang timbul melalui proses yang agak panjang dan lama.
C. Proses Sosialisasi
Proses Sosialisasi generasi muda adalah suatu proses yang sangat menentukan kemampuan diri
pemuda untuk menselaraskan diri ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Oleh
karena itu pada tahap pengembangan dan pembinaannya melalui proses kematangan
dirinya dan belajar pada berbagai media sosialasi yang ada dimasyarakat,
seorang pemuda harus mampu menseleksi berbagai kemungkinan yang ada sehingga
mampu mengendalikan diri dalam hidupnya ditengah-tengah masyarakat dan tetap
mempunyai motivasi sosial yang tinggi.
Proses sosialisasi tidak hanya berhenti sampai keluarga saja tapi masih
bersambung pada lingkungan atau lembaga lainnya. Menurut COHAN 1983 menyatakan bahwa lembaga – lembaga sosialisasi yang terpenting ialah
keluarga, sekolah, kelompok sebaya, dan media massa. Dengan demikian
sosialisasi dapat berlangsung secara formal ataupun informal. Secara formal proses sosialisasi lebih teratur, secara sadar dan disengaja sedangkan
yang informal proses sosialisasi
tidak teratur, tidak disadari dan tidak disengaja.
Faktor lingkungan bagi pemuda dalam proses sosialisasi memegang peranan
penting karena dalam proses sosialisasi pemuda terus berlanjut dengan segala
daya imitasinya melalui perolehan pengalaman demi pengalaman yang pemuda
tersebut terima. Lebih- lebih pada masa peralihan dari masa muda menjelang
pemuda tersebut karena disaat inilah mereka rata-rata sering menemukan konflik
. Nah disinilah peran pendidik lingkungan diutamakan. Lingkungan atau wadah
pembinaan haruslah bersifat fleksibel, mampu dan mengerti dalam membina pemuda
tanpa harus mematikan jiwa mudanya yang penuh dengan semangat hidup.
D. Peran Sosial
Mahasiswa dan Pemuda dalam Masyarakat
Peranan sosial mahasiswa dan pemuda di masyarakat
kurang lebih sama dengan peran warga yang lainnnya di masyarakat. Mahasiswa
mendapat tempat istimewa karena mereka dianggap kaum intelektual yang sedang
menempuh pendidikan. Pada saatnya nanti sewaktu mahasiswa lulus kuliah, ia akan
mencari kerja dan menempuh kehidupan yang relatif sama dengan warga yang lain.
Secara kelasik masa muda merupakan masa yang paling
menyenangkan. Pencarian jati diri dengan melakukan berbagai hal sesuai kehendak
hati, kesenangan, sex bebas, narkotika, kenakalan dan lain-lain merupakan
refleksi kelebihan energi yang bermuatan negative. Selama ini pemuda merupakan
obyek dan bukan subjek bagi pembangunan. Sehingga hanya sebagai penonton dan
penikmat hasil dari pembangunan. Hal ini terjadi karena ketidakpercayaan generasi
tua terhadap generasi muda. Takut akan terjadi kegagalan dan sikap mengecilkan
bukan suatu sikap yang membangun generasi muda menuju ke arah yang lebih baik
karena hal itu dapat mengganggu perkembangan mental pemuda.
Tidak adanya
kesempatan untuk melakukan pembangunan menumbuhkan suatu perasaan yang
membosankan dari diri pemuda. Kegiatan mengasingkan diri dan membentuk
kelompok-kelompok preman serta melakukan kegiatan yang meresahkan bagi
masarakat umum merupakan suatu cara mereka dalam menyalurkan energi. Dengan
demikian tidak dapat di salahkan jika generasi muda yang berikutnya akan
demikian. Sikap imitasi/meniru perilaku dari orang lain merupakan proses
belajar. Maka lingkungan juga memiliki peran yang cukup besar dalam pertumbuhan
setiap insan. Lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah
dan lain-lain memiliki porsi yang berbeda dalam membentuk kepribadian anak.
Misal seorang anak yang tinggal di lingkungan sekolah pasti memiliki
kepribadian yang berbeda dengan anak yang tinggal di lingkungan pasar.
Padahal hakikatnya adalah bahwa masa
depan suatu bangsa terletak di tangan pemuda, artinya merekalah yang akan
menggantikan generasi sebelumnya dalam memimpin bangsa. Oleh karena itu mereka
perlu diberi bekal berupa ilmu pengetahuan dengan cara memberikan mereka
pendidikan baik formal maupun informal, baik pendidikan dasar maupun pendidikan
tinggi. Pembangunan yang dilakukan oleh generasi muda merupakan rangkaian gerak
perubahan menuju kemajuan. Didalam pembangunan nasional, bukan hanya
pembangunan fisik saja yang diperlukan melainkan membawa mereka agar
terciptanya perubahan sosial.
Dalam hubungannya dengan
sosialisasi generasi muda khususnya mahasiswa telah melaksanakan proses
sosialisasi dengan baik dan dapat dijadikan contoh untuk generasi muda.
Pada garis besarnya, pemuda mempunyai peranan
sebagai berikut :
1.
Agent
of change : Pemuda bertugas untuk mengadakan perubahan-perubahan dalam masyarakat
ke arah perubahan yang lebih baik. Perubahan yang bersifat kemanusiaan.
2.
Agent
of defelopment :
Pemuda bertugas atau melancarkan atau
melaksankan pembangunan di segala bidang, baik bersifat fisik maupun non fisik.
3.
Agent
of modernization : Pemuda bertindak
dan bertugas sebagai pelopor dalam pembaharuan. Maksudnya pemuda pemuda dapat
memilih mana yang perlu diubah dan mana yang masih tetap dipertahankan.
Jurang pemisah antar golongan akan
musnah jika kita memandang semua golongan itu sebagai totalitas (orang tua,
pemuda, anak-anak). Dengan demikian tidak ada pertentangan antara pemuda, orang
dewasa (generasi tua) dan anak-anak, secara fundamental. Tidak ada generasi
yang menganggap dirinya pelindung generasi sekarang atau yang akan datang.
Semuanya bertanggung jawab atas keselamatan kesejahteraan, kelangsungan generasi
sekarang dan yang akan datang. Kalaupun perbedaan dalam kematangan befikir,
dalam menghayati makna hidup dan kehidupan ini semata-mata bukan hanya
disebabkan oleh tingkat kedewasaannya saja, melainkan perbedaan antara
kelompok-kelompok yang ada, antara generasi tua dan generasi muda.
2. Pemuda dan Identitas
1.
Pola Dasar Pembinaan dan
Pengembangan Generasi Muda
Pola dasar pembinaan dan pembangunan generasi
muda ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Keputusan Menteri
Pendidkan dan Kebudayaan nomor : 0323/U/1978 tanggal 28 oktober 1978. Tujuannya
agar semua pihak yang turut serta dan berkepentingan dalam penanganannya
benar-benar menggunakannya sebagai pedoman sehingga pelaksanaanya dapat
terarah, menyeluruh dan terpadu serta dapat mencapai sasaran dan tujuan yang
dimaksud.
Pola dasar pembinaan dan pengembangan generasi muda disusun berlandaskan:
1.
Landasan Idiil: Pancasila
2.
Landasan Konstitusional: Undang-undang Dasar 1945
3.
Landasan Strategi: Garis-garis Besar Haluan Nrgara
4.
Landasan Historis: Sumpah Pemuda dan Proklamasi
5.
Landasan Normatif: Tata Nilai ditengah Masyarakat
Arah pembinaan dan pengembangan generasi muda
ditunjukan pada pembangunan yang memiliki keselarasan dan keutuhan antara
ketiga sumbu orientasi hidupnya yakni:
1.
Orientasi
ke ataskepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.
Orientasi
dalam dirinya sendiri.
3.
Orientasi
keluar hidup di lingkungan.
B.
Dua Pengertian Pokok Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda
1.
Generasi
muda sebagai subjek pembinaan dan pengembangan adalah mereka yang telah
memiliki bekal dan kemampuan serta landasan untuk mandiri dan ketrlibatannya
pun secara fungsional bersama potensi lainnya guna menyelesaikan masalah-masalah
yang dihadapi.
2.
Generasi
muda sebagai objek pembinaan dan pengembangan adalah mereka yang masih
memerlukan pembinaan dan pengembangan kea rah pertumbuhan potensi dan kemampuan
ketingkat yang optimal dan belum dapat bersikap mandiri yang melibatkan secara
fungsional.
Pengertian pokok pembinaan dan pengembangan
generasi muda merupakan generasi
penerus perjuangan bangsa dan sumber daya insani bagi pembangunan nasional yang
diharapkan mampu memikul tugas dan tanggung jawab untuk kelestarian kehidupan
bangsa dan negara. Untuk itu generasi muda perlu mendapatkan perhatian khusus
dan kesempatan yang seluas-luasnya untuk dapat tumbuh dan berkembang secara
wajar baik jasmani, rohani maupun sosialnya.
Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya, terdapat generasi muda yang
menyandang permasalahan sosial seperti kenakalan remaja, penyalahgunaan obat dan
narkoba, anak jalanan dan sebagainya
baik yang disebabkan oleh faktor dari dalam dirinya (internal) maupun dari luar
dirinya (eksternal). Oleh karena itu perlu adanya upaya, program dan kegiatan
yang secara terus menerus melibatkan peran serta semua pihak baik keluarga,
lembaga pendidikan, organisasi pemuda, masyarakat dan terutama generasi muda
itu sendiri. Arah kebijakan pembinaan generasi muda dalam pembangunan nasional
menggariskan bahwa pembinaan perlu dilakukan dengan mengembangkan suasana
kepemudaan yang sehat dan tanggap terhadap pembangunan masa depan, sehingga
akan meningkatkan pemuda yang berdaya guna dan berhasil guna. Dalam hubungan
itu perlu dimantapkan fungsi dan peranan wadah-wadah kepemudaan seperti KNPI,
Pramuka, Karang Taruna, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Organisasi
Mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi dan organisasi fungsional lainnya.
C.
Masalah dan Potensi Generasi Muda
v Berbagai permasalahan
generasi muda yang muncul pada saat ini antara lain:
1.
Dirasa menurunnya jiwa idealisme, patriotisme, dan
nasionalisme di kalangan masyarakat termasuk generasi muda.
2.
Dirasa menurunnya jiwa idealisme, patriotisme, dan
nasionalisme di kalangan masyarakat.
3.
Belum seimbangnya antara jumlah generasi muda dengan
fasilitas pendidikan yang tersedia, baik yang formal maupun non formal.
Tingginya jumlah putus sekolah yang diakibatkan oleh berbagai sebab yang bukan
hanya merugikan generasi muda sendiri, tetapi juga merugikan seluruh bangsa.
4.
Kurangnya lapangan kerja / kesempatan kerja serta tingginya
tingkat pengangguran /setengah pengangguran di kalangan generasi muda dan
mengakibatkan berkurangnya produktivitas nasional dan memperlambat kecepatan
laju perkembangan pembangunan nasional serta dapat menimbulkan berbagai masalah
social lainnya.
5.
Kurangnya gizi yang dapat menyebabkan hambatan bagi
perkembangan kecerdasan dan pertumbuhan badan di kalangan generasi muda, hal
tersebut disebabkan oleh rendahnya daya beli dan kurangnya perhatian tentang
gizi dan menu makanan seimbang di kalangan masyarakat yang berpenghasilan
rendah.
6.
Masih banyaknya perkawinan di bawah umur, terutama di
kalangan masyarakat daerah pedesaan.
7.
Pergaulan bebas yang membahayakan sendi-sendi perkawinan dan
kehidupan keluarga.
8.
Meningkatnya kenakalan remaja termasuk penyalahgunaan
narkotika.
9.
Belum adanya peraturan perundangan yang menyangkut generasi
muda.
Dan ada juga masalah lain yaitu:
1.
Kebutuhan
akan Figur Teladan: Remaja jauh lebih mudah terkesan akan nilai-nilai luhur yang
berlangsung dari keteladanan orang tua mereka daripada hanya sekedar nasihat-nasihat
bagus yang tinggal hanya kata-kata indah.
2.
Sikap Apatis: Sikap apatis meruapakan kecenderungan untuk menolak sesuatu
dan pada saat yang bersamaan tidak mau melibatkan diri di dalamnya. Sikap
apatis ini terwujud di dalam ketidakacuhannya akan apa yang terjadi
dimasyarakatnya.
3.
Kecemasan dan
Kurangnya Harga Diri: Kata stess atau
frustasi semakin umum dipakai kalangan remaja. Banyak kaum muda yang mencoba
mengatasi rasa cemasnya dalam bentuk “pelarian” (memburu kenikmatan lewat
minuman keras, obat penenang, seks dan lainnya.
4.
Ketidakmampuan
untuk Terlibat: Kecenderungan untuk
mengintelektualkan segala sesuatu dan pola pikir ekonomis, membuat para remaja
sulit melibatkan diri secara emosional maupun efektif dalam hubungan pribadi
dan dalam kehidupan di masyarakat. Persahabatan dinilai dengan untung rugi atau
malahan dengan uang.
5.
Perasaan Tidak
Berdaya: Perasaan tidak
berdaya ini muncul pertama-tama karena teknologi semakin menguasai gaya hidup
dan pola berpikir masyarakat modern. Teknologi mau tidak mau menciptakan
masyarakat teknokratis yang memaksa kita untuk pertama-tama berpikir tentang keselamatan
diri kita di tengah-tengah masyarakat. Lebih jauh remaja mencari “jalan
pintas”, misalnya menggunakan segala cara untuk tidak belajar tetapi mendapat
nilai baik atau ijazah.
6.
Pemujaan akan
Pengalaman: Sebagian besar
tindakan-tindakan negatif anak muda dengan minumam keras, obat-obatan dan seks
pada mulanya berawal dari hanya mencoba-coba. Lingkungan pergaulan anak muda
dewasa ini memberikan pandangan yang keliru tentang pengalaman.
v Potensi-potensi
yang terdapat pada generasi muda yang perlu dikembangkan, yaitu:
1.
Idealisme
dan Daya Kritis.
2.
Dinamika
dan Kreativitas.
3.
Keberanian
mengambil resiko.
4.
Optimis
dan Semangat
5.
Mandiri,
Disiplin, Peduli dan Bertanggung Jawab
6.
Keanekaragaman
dalam Persatuan dan Kesatuan.
7.
Patriotisme
dan Nasionalisme.
8.
Kemampuan
menguasai Ilmu dan Teknologi
D. Pentingnya Pendidikan Tinggi untuk
Generasi Muda
Negara berkembang masih banyak mendapat
kesulitan untuk penyelenggaraan pengembangan tenaga usia muda melalui pendidikan.
Sehubung dengan itu negara yang berkembang merasakan selalu kekurangan tenaga
terampil dalam mengisi lowongan-lowongan pekerjaan tertentu yang meminta tenaga
kerja dengan keterampilan khusus. Kekurangan tenaga terampil itu terasa
manakala negara-negara sedang berkembang merencanakan dan berambisi untuk
mengembangkan dan memanfaatkan sumber-sumber alam yang mereka miliki.
Pembinaan dan pengembangan potensi angkatan muda pada tingkat perguruan tinggi,
lebih banyak diarahkan dalam program-program studi dalam berbagai ragam pendidikan
formal. Mereka dibina di laboratorium dan pada kesempatan praktek lapangan.
Kaum muda memang betul-betul merupakan suatu sumber bagi pengembangan
masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, pembinaan dan perhatian khusus harus
diberikan bagi kebutuhan dan pengembangan potensi mereka.
Cara mengembangkan potensi generasi muda:
1.
Individu
harus diberi ilmu pengetahuan (keterampilan) yang dibutuhkan bagi kehidupan
kelak di masyarakat.
2.
Individu
harus mampu berkomunikasi secara efektif dan mengembangkan kemampuannya.
3.
Pengendalian
fungsi-fungsi organik yang dipelajari melalui latihan-latihan mawas diri yang
tepat.
4.
Bertingkah
laku secara selaras dengan norma atau tata nilai dan kepercayaan pokok ada pada
lembaga atau kelompok khususnya dan pada masyarakat umumnya.
Pengertian
Pendidikan dan Perguruan Tinggi
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta
keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Pendidikan juga merupakan bimbingan
eksistensial manusiawi dan bimbingan otentik, agar anak belajar mengenali
jatidirinya yang unik, bisa bertahan hidup, dan mampu memiliki, melanjutkan dan
mengmbangkan warisan-warisan social generasi terdahulu.
Tujuan pendidikan adalah menciptakan
seseorang yang berkualitas dan berkarakter sehingga memiliki pandangan yang
luas kedepan untuk mencapai suatu cita-cita yang di harapkan dan mampu
beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai lingkungan. Karena
pendidikan itu sendiri memotivasi diri kita untuk lebih baik dalam segala aspek
kehidupan.
Macam-macam Pendidikan:
1.
Pendidikan
Umum: Pendidikan dasar
dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh
peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Bentuknya: Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah
Atas (SMA).
2.
Pendidikan
Kejuruan: Pendidikan
menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang
tertentu. Bentuk satuan pendidikannya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
3.
Pendidikan
Akademik: Pendidikan
tinggi program sarjana dan pascasarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan
disiplin ilmu pengetahuan tertentu.
4.
Pendidikan
Profesi: Pendidikan
tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki
suatu profesi atau menjadi seorang profesional.
5.
Pendidikan
Vokasi: Pendidikan tinggi
yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian
terapan tertentu maksimal dalam jenjang diploma 4 setara dengan program sarjana
(S1).
6.
Pendidikan
Keagamaan:
Pendidika dasar, menengah, dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk
dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan dan pengalaman
terhadap ajaran agama atau menjadi ahli ilmu agama.
7.
Pendidikan
Khusus: Penyelenggaraan
pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang
memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif (bergabung
dengan sekolah biasa) atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat
pendidikan dasar dan menengah (dalam bentuk Sekolah Luar Biasa).
8.
Perguruan
Tinggi: Satuan pendidikan
penyelenggara pendidikan tinggi. Peserta didik perguruan tinggi disebut
mahasiswa, sedangkan tenaga pendidik perguruan tinggi disebut dosen.
Alasan Untuk Berkesempatan Mengenyam Perguruan
Tinggi adalah:
Pertama, sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan
terbaik, mereka memiliki pengetahuan yang luas tentang masyarakat, karena
adanya kesempatan untuk terlibat di dalam pemikiran, pembicaraan serta
penelitian tentang berbagai masalah yang ada dalam masyarakat.
Kedua, sebagai kelompok masyarakat yang paling lama di bangku
sekolah, maka mahasiswa mendapat proses sosialisasi terpanjang secara
berencana, dibanding dengan generasi muda lainnya.
Ketiga, mahasiswa yang berasal dari berbagai etnis dan suku
bangsa dapat menyatu dalam bentuk terjadinya akulturasi social dan budaya.
Keempat, mahasiswa sebagai kelompok yang akan memasuki lapisan
atas dari susunan kekuasaan, struktur perekonomian dan prestise di dalam
masyarakat, dengan sendirinya merupakan elite di kalangan generasi muda, umunya
mempunyai latar belakang sosial, ekonomi, dan pendidikan lebih baik dari
keseluruhan generasi muda lainnya. Mahasiswa pada umumnya mempunyai pandangan
yang lebih luas dan jauh ke depan serta keterampilan beroganisasi yang lebih
baik dibandingkan dengan generasi muda lainnya.
Sumber:
- Ilmu Sosial
Dasar , Drs. H. Hartono dan Dra. Arnicun Aziz
- Ilmu Sosial
Budaya Dasar, Zainimal SKM
- ISD , Drs .
H.M. Arifin Noor
- https://ciptadestiara.wordpress.com/category/internalisasi-belajar-dan-sosialisasi/